Kehadiran seorang partner dalam mengajar bagiku sangat penting, rekan kerja dapat mengisi kekosongan kita dalam menyampaikan materi, bisa menolong kita menenangkan anak-anak ketika kita kehabisan energi, dan jika beruntung,partner bisa menjadi sahabat yang sangat baik buat kita.
Aku pernah punya rekan yang sangat luar biasa, sebagai seorang guru, dia punya pengetahuan yang luas. Temanku ini tidak pernah marah walaupun anak-anak sudah bertingkah menjengkelkan, dia tidak pernah melenguh, eh! (emang bukan sapi) mengeluh meskipun pekerjaan di kelas maupun di kantor menyita banyak waktunya. Dia rajin beribadah dan semua hal yang baik-baik ada padanya.
Seringkali aku heran, kok ada sih manusia seperti temanku ini. Di dunia yang semakin nggak bener ini, masih ada manusia yang bertahan melakukan hal yang baik-baik, meskipun harus bertentangan dengan berbagai pihak.
Namanya Erna, kalo dia baca tulisan ini pasti dia jadi besar kepala, tapi kesombongan juga bukan bagian dari dirinya (at least gak sesering aku dia bersikap congkak). Di antara ketiga sahabatku, Ernalah yang badannya paling besar dan dialah yang umurnya paling tua hehehehe.. karena itu, seingatku dia jugalah yang paling sering bayarin kita makan :) . Dia juga selalu berusaha untuk bijaksana menghadapi masalah.
Untuk pribadi yang begitu baik di mata manusia, Erna memiliki hidup yang (menurutku) belum lengkap. Dari pernikahan yang sudah 7 tahun dijalaninya, Tuhan belum menitipkan seorang anak. Dan bertolak belakang dengan pribadi Erna yang hangat & menyenangkan, suaminya (ini pendapatku berdasarkan pengamatan selama beberapa waktu) orang yang serius sekali dan sangat gigih mengejar cita-citanya hingga rela menunda keinginan sang istri untuk punya anak untuk waktu yang lama.
Emang sih, untuk segala sesuatu ada waktunya, mungkin ketika Erna kelak lebih mapan, Allah akan mengaruniakan seorang anak untuk keluarganya. Mungkin ketika waktu itu tiba, suaminya sudah menjadi orang yang lebih riang dan hangat sehingga bisa menjadi ayah yang menyenangkan. Who knows?some people change..
However, sebelum kepindahannya ke Jakarta (tentunya untuk mendampingi suami menyelesaikan studi S3) Erna pernah memberi nasehat yang membekas di hatiku, nasehat untuk menjalani hidup dengan ikhlas. Katanya, asalkan kita ikhlas, insyaAllah akan ada kemudahan untuk menghadapi apapun.
:( aku tidak begitu ikhlas menerima kepergiannya ke Jakarta, bagaimanapun, waktu yang kulewati bersama Erna adalah masa-masa yang indah. Kalau aku mampu, aku ingin menahannya di sini, di dekatku dan sahabat-sahabatku yang lain. Aku takut, kalau dia menetap di Jakarta dia tak kuasa menahan keinginan untuk bergabung dengan Bang Haji Roma Irama dan mengganti namanya menjadi Erna Soneta…
Good luck Miss Erna, we’re all gonna miss u..
