Jumat, 28 November 2008

there's something about erna

Kehadiran seorang partner dalam mengajar bagiku sangat penting, rekan kerja dapat mengisi kekosongan kita dalam menyampaikan materi, bisa menolong kita menenangkan anak-anak ketika kita kehabisan energi, dan jika beruntung,partner bisa menjadi sahabat yang sangat baik buat kita.
Aku pernah punya rekan yang sangat luar biasa, sebagai seorang guru, dia punya pengetahuan yang luas. Temanku ini tidak pernah marah walaupun anak-anak sudah bertingkah menjengkelkan, dia tidak pernah melenguh, eh! (emang bukan sapi) mengeluh meskipun pekerjaan di kelas maupun di kantor menyita banyak waktunya. Dia rajin beribadah dan semua hal yang baik-baik ada padanya.
Seringkali aku heran, kok ada sih manusia seperti temanku ini. Di dunia yang semakin nggak bener ini, masih ada manusia yang bertahan melakukan hal yang baik-baik, meskipun harus bertentangan dengan berbagai pihak.
Namanya Erna, kalo dia baca tulisan ini pasti dia jadi besar kepala, tapi kesombongan juga bukan bagian dari dirinya (at least gak sesering aku dia bersikap congkak). Di antara ketiga sahabatku, Ernalah yang badannya paling besar dan dialah yang umurnya paling tua hehehehe.. karena itu, seingatku dia jugalah yang paling sering bayarin kita makan :) . Dia juga selalu berusaha untuk bijaksana menghadapi masalah.
Untuk pribadi yang begitu baik di mata manusia, Erna memiliki hidup yang (menurutku) belum lengkap. Dari pernikahan yang sudah 7 tahun dijalaninya, Tuhan belum menitipkan seorang anak. Dan bertolak belakang dengan pribadi Erna yang hangat & menyenangkan, suaminya (ini pendapatku berdasarkan pengamatan selama beberapa waktu) orang yang serius sekali dan sangat gigih mengejar cita-citanya hingga rela menunda keinginan sang istri untuk punya anak untuk waktu yang lama.
Emang sih, untuk segala sesuatu ada waktunya, mungkin ketika Erna kelak lebih mapan, Allah akan mengaruniakan seorang anak untuk keluarganya. Mungkin ketika waktu itu tiba, suaminya sudah menjadi orang yang lebih riang dan hangat sehingga bisa menjadi ayah yang menyenangkan. Who knows?some people change..
However, sebelum kepindahannya ke Jakarta (tentunya untuk mendampingi suami menyelesaikan studi S3) Erna pernah memberi nasehat yang membekas di hatiku, nasehat untuk menjalani hidup dengan ikhlas. Katanya, asalkan kita ikhlas, insyaAllah akan ada kemudahan untuk menghadapi apapun.
:( aku tidak begitu ikhlas menerima kepergiannya ke Jakarta, bagaimanapun, waktu yang kulewati bersama Erna adalah masa-masa yang indah. Kalau aku mampu, aku ingin menahannya di sini, di dekatku dan sahabat-sahabatku yang lain. Aku takut, kalau dia menetap di Jakarta dia tak kuasa menahan keinginan untuk bergabung dengan Bang Haji Roma Irama dan mengganti namanya menjadi Erna Soneta…
Good luck Miss Erna, we’re all gonna miss u..

Minggu, 02 November 2008

my life as kindergarten teacher

Menjadi guru TK ternyata tak semudah yang kubayangkan, dulu pas masih kuliah kupikir pasti senneeng banget tiap hari ketemu anak kecil yang lucu-lucu. Kaya’nya kan mereka makhluk yang inosen dan lugu dan berada di dekat mereka pasti seru sekali!!
Tahun pertama aku mengajar memang sangat menyenangkan, namanya juga first experience, rasanya asik aja gitu. Mungkin karena waktu itu aku belum jadi wali kelas, jadi gak terasa capek banget . Tapi mungkin juga karena partnerku ngajar agak galak jadi anak-anak mudah sekali diatur, hehehe….
Tahun kedua mulai ada tantangan. Di sekolah tempat aku ngajar, normalnya ada dua guru di setiap kelasnya, tapi karena keberuntungan belum berpihak padaku, awal tahun ajaran itu aku ngajar sendirian :( hiks..hiks.. hari-hari pertama sih mereka masih nurut, pas udah seminggu mulai deh tenggorokan terasa gatal. Untungnya kesendirianku tidak berlangsung lama, aku akhirnya punya partner yang luar biasa!
Tahun ketiga aku sudah terbiasa dengan anak-anak, aku bisa bersikap tegas (baca:galak) saat dibutuhkan dan saat datang masa sulit (sehingga lagi2 harus ngajar sendirian), aku dan anak-anak bisa mengatasinya.
Gak nyangka aku bisa ngajar sampe sekarang, bayangin aja, tiap hari kita harus siap bersuara keras-tapi tidak bernada mengancam, harus selalu tersenyum-meskipun banyak hal yang menyebalkan, harus siap dibodohi oleh kurcaci-kurcaci kecil nan lucu, harus siap tuli karena teriakan nyaring dan celoteh yang gak ada habisnya, harus siap ketemu muntah-boker di celana serta ompol, harus siap juga menangkis tinju dan tendangan, dan yang paling penting harus siap memberikan pelukan dan senyuman ketika malaikat kecil kita terluka atau tidak merasa aman.
Tapi..kalo dipikir-pikir, anak-anak inilah yang membuatku bisa survive sampai sekarang. Rinduku untuk mendengar tawa, tangis, teriakan, jeritan bahkan olok-olok merekalah yang membuat aku bangun setiap pagi. Pertanyaan dan tingkah laku konyol mereka yang membuatku selalu ingin lekas kembali ke sekolah.
Belajar bersama mereka, memasuki negeri penuh imajinasi, membuat hidupku menjadi lebih indah dari hidup siapapun. Keajaiban yang kulihat di mata setiap anak, membuatku bisa bertahan menghadapi berbagai kesulitan hidup.
Kids are amazing!!