Minggu, 14 Desember 2008

brothers

Punya sodara cuma seorang seringkali membuatku merasa kesepian. Semakin kami dewasa, semakin terasa sepi karena frekuensi ketemuan tidak sesering ketika kami masih anak-anak. Apalagi, abangku mencari nafkah di Qatar sana, belum tentu setiap tahun dia bisa pulang nengokin keluarga. Tahun lalu, abangku pulang cuma sekali untuk tunangan, tahun ini dia pulang untuk nyiapin dokumen dan pernak-pernik pernikahan, dan tahun depan, insyaAllah dia pulang untuk akhirnya menikah dan memiliki keluarga sendiri. Setelah itu…. entah kapan lagi aku bisa bertemu abangku yang gundul itu.
Cowokku yang juga cuma seorang (salah sendiri kenapa gak punya 3), unfortunately juga terdampar di negeri maumere sana, meskipun agak lebih sering pulang daripada abangku tapi tetep aja gak bisa ketemu tiap hari. Emang sih teknologi semakin canggih seharusnya membuat jarak sejauh apapun jadi terasa dekat, tapi.. teknologi tidak cukup memuaskan untuk berbagi rasa saat kita sedih, bahagia dan panik!!
Dulu aku berpikir, selama ada teman-teman dan banyak kesibukan, aku nggak akan merasa kesepian, tapi..akhir-akhir ini sepertinya aku mulai berubah pikiran. Setiap malam, setelah lepas dari penat pekerjaan dan rutinitas sehari-hari, mulai terasa deh ada yang kurang. Dulu aku bisa langsung cerita ke abang ato cowokku apa saja yang aku alami dan rasakan, sekarang aku bisa cerita ke beberapa teman sih, tapi ada hal-hal yang tetap tertahan dan nggak mungkin diceritain secara gamblang.
Tapi, seperti kata kepala sekolahku, life goes on. Biarpun tanpa kehadiran orang-orang terdekat di sampingku, aku harus melanjutkan mengisi hari lepas hari dengan kegiatan yang berguna, dan memanfaatkan waktu dan teknologi yang ada semaksimal mungkin untuk menjaga hubungan dengan keluarga dan teman dekat tetap berkualitas.
Lagipula, tidak perlu berdekatan untuk saling mendukung dan peduli. Kelak pasti ada waktunya untuk berkumpul lagi. Dan bagi beberapa orang yang nggak pernah terpisah jauh dengan orang yang dikasihi, semoga mereka bisa menghargai waktu dan kesempatan yang mereka miliki, menciptakan sebanyak mungkin kenangan untuk bekal, jika suatu saat mereka harus berjalan sendiri.. :)

sedia payung sebelum hujan, angkat kaki sebelum banjir


Sejak beberapa tahun belakangan ini..kotaku tercinta selalu terendam banjir saat hujan :( padahal dulu nggak gini lho. Dan kalo diperhatikan, banjirnya tambah lama kok tambah tinggi, kalo dulu se-mata kaki sekarang dah se-lutut, ampun deh. Pas masih kuliah dulu, aku ngajar les privat di sore hari, setiap musim hujan tiba, jalan menuju rumah murid les pasti kebanjiran dan aku harus berjibaku dengan air dan lumpur untuk bisa sampai ke tempat tujuan. Tapi aku pantang mundur, demi uang saku tambahan yang jumlahnya lumayan bisa buat beli buku cerita hehe..


Sekarang, aku gak nyangka bisa jadi korban banjir lagi.. tapi kali ini benar-benar pengalaman yang aneh..

Begini ceritanya.. sabtu lalu, aku dan dua sahabatku berniat wisata kuliner ke salah satu warung di dekat stasiun kota baru Malang. Pas berangkat dari tempat kerja emang dah hujan, oleh karena keprihatinan kepala sekolah kami, beliau menawarkan pulang bareng sopirnya yang mau nganterin anaknya ke tempat les. Karena searah dengan warung tujuan, kami setuju untuk numpang.


Sepanjang perjalanan ternyata hujan turun semakin deras, mengakibatkan banjir melanda beberapa wilayah, termasuk banyak pemukiman penduduk. Bahkan banyak kendaraan dan angkot mogok sehingga menyebabkan penumpangnya hidup segan-mati tak mau, gimana enggak, mereka pasti bĂȘte terkurung di dalam kendaraan dengan udara terbatas (belum lagi kalo ada yang kentut, oh wow), tapi juga deg-degan takut disuruh turun ma sopir untuk dorong angkot.

Sementara semua orang berlomba mencapai kehangatan rumah, mobil yang kami tumpangi melaju santai, yakin bahwa badai pasti berlalu, berhasil melewati kubangan demi kubangan dsengan sukses. Akhirnya, tiba di seberang stasiun kota baru, di warung ‘warna warni’, dan hujan mulai reda..


Tak sabar meneguk kehangatan, kami bertiga memesan pangsit mie dan dua temanku pesan es krim, gila!padahal cuaca dingin menusuk hidung. Kami mulai makan dan larut dalam percakapan, tanpa disadari hujan turun deras lagi..

Lantai warung yang lebih rendah dari permukaan air, menciptakan genangan di beberapa sudut..tapi curhat kami lanjut terus!!! Beberapa menit kemudian aku mulai mendengar suara tawa tergelak tapi panik. Ternyata suara pemilik warung yang lagi nongkrong di atas kursinya, dua kaki diangkat menghindari air beriak kecil dibawahnya hohohoho…. WARUNGNYA KEBANJIRAN!!!!!!


Melihat debit air yang semakin meninggi, temanku mengusulkan menarik kursi di seberang meja untuk digabung ma kursi kita jadi kaki kita bisa selonjor santai, terbebas dari bahaya terserang gatal2 karena terendam air banjir. Ide ini ternyata mengilhami beberapa pasang kekasih yang juga lagi makan disitu untuk melakukan hal yang sama.

So.. disitulah kami, hidup segan mati tak mau, seperti penumpang yang terjebak di angkot tadi. Tapi mati pun mungkin gak akan penasaran cos dah makan pangsit mie, es krim dan secangkir hot cappuccino.


Pelajaran bagi semua, sangat bijaksana jika saat anda membangun mall, ruko, real estate, anda juga memikirkan kelancaran lalu lintas air. Tempat sampah adalah tempat yang paling tepat untuk membuang sampah (padahal dah dikasih pelajaran sejak TK tapi kok masih ada aja orang buang sampah di selokan), simpan dokumen penting di tempat yang kering saat musim hujan tiba, tingkatkan kewaspadaan saat hujan karena banjir dapat juga mengakibatkan longsor, last but not least, sedia payung sebelum hujan, angkat kaki sebelum banjir!!